Menerapkan Multi-Entry & Multi-Exit Dengan Basis Penilaian Berdasarkan Capaian Pembelajaran

Kurikulum yang diterapkan menggunakan pendekatan tailor-made curriculum, yaitu kurikulum yang dirancang secara khusus sesuai dengan kebutuhan lembaga pendidikan. Sistem ini dikenal dengan konsep multi-entry dan multi-exit, yang memberikan fleksibilitas kepada peserta didik dalam menjalani proses pembelajaran. Melalui sistem ini, setiap siswa dinilai berdasarkan capaian pembelajaran (learning outcomes), bukan berdasarkan keseragaman waktu atau jenjang kelas sebagaimana lazimnya sistem pendidikan konvensional.

Penerapan sistem ini memungkinkan siswa untuk memulai pembelajaran dari tingkat yang sesuai dengan kemampuan dan pencapaiannya, tanpa harus selalu dimulai dari kelas pertama. Disebut multi-entry karena siswa dapat masuk pada level mana pun sesuai kompetensi yang telah dimiliki. Sementara itu, istilah multi-exit menunjukkan bahwa siswa dapat melanjutkan ke tahap pembelajaran berikutnya setelah memenuhi capaian tertentu, tanpa menunggu ujian bersama atau menyesuaikan dengan ritme kelas yang seragam. Dengan demikian, sistem ini menempatkan capaian pembelajaran sebagai tolok ukur utama, bukan lamanya waktu belajar.

Pendekatan semacam ini menjadikan proses belajar lebih personal dan fleksibel. Setiap siswa dapat berkembang sesuai kecepatan dan kemampuannya masing-masing. Pola ini juga membuka peluang bagi peserta didik untuk menyelesaikan pembelajarannya dalam waktu yang berbeda-beda. Dalam konteks ini, sistem multi-entry dan multi-exit memiliki kemiripan dengan sistem Syarat Kecakapan Umum (SKU) dalam gerakan Pramuka maupun dengan metode sorogan yang digunakan di lingkungan pesantren. Keduanya menekankan pembelajaran berbasis capaian individual dan tanggung jawab pribadi terhadap proses belajar.

Metode sorogan di pesantren merupakan salah satu bentuk pembelajaran individual yang menekankan kedekatan antara guru dan siswa. Dalam metode ini, setiap siswa menghadap guru secara bergiliran untuk menyetorkan atau menjelaskan materi yang telah dipelajari. Guru kemudian memberikan koreksi, arahan, dan penjelasan tambahan secara langsung sesuai dengan tingkat pemahaman siswa. Proses ini memungkinkan guru mengetahui secara mendalam perkembangan setiap peserta didik, sekaligus memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan kecepatannya sendiri.

Keunggulan dari metode sorogan terletak pada personalisasi proses belajar dan kedekatan hubungan antara guru dan siswa. Interaksi yang intens ini membuat guru mampu menilai kemampuan siswa secara lebih objektif dan mendalam. Selain itu, metode ini menekankan pentingnya penguasaan materi sebelum melangkah ke tahap selanjutnya, sehingga memastikan kualitas pembelajaran yang benar-benar tuntas. Siswa yang cepat memahami dapat segera melanjutkan ke pelajaran berikutnya, sementara mereka yang membutuhkan waktu lebih lama akan mendapat bimbingan tambahan.

Dengan pendekatan seperti ini, sistem pembelajaran menjadi lebih fleksibel, berorientasi pada capaian, dan menghargai keunikan proses belajar setiap individu. Model ini tidak hanya relevan untuk diterapkan di pesantren, tetapi juga dapat menjadi inspirasi dalam pengembangan sistem pendidikan modern yang menempatkan peserta didik sebagai pusat proses pembelajaran. Melalui konsep multi-entry dan multi-exit yang berpadu dengan semangat personalisasi belajar, pendidikan diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, adaptif, dan memanusiakan proses belajar itu sendiri.