Usaha yang bersifat spiritual dengan memakai pendekatan sufisme mungkin sangat sedikit yang melaksanakannya,dalam konteks pendidikan sehingga output yang dihasilkan tidak sesuai dengan harapan.disini pentingnya memahami nilai nilai sepiritual dalam tasawuf.
kesempurnaan manusia tidak serta-merta menjadikannya sebagai makhluk terbaik, pada kalanya manusia bisa naik ke maqam para malaikat bahkan bisa melebihinya, dan pada saat yang lain justru bisa menjadi sama kedudukannya dengan hewan bahkan lebih hina darinya. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam Surat At-Tin ayat 4-6 :
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (٤) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (٥) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (٦)
Artinya : “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya, kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh, maka bagi mereka pahala yang tidak terputus” (QS. At-Tin ayat 4-6).
Seorang tokoh sufi Abu Yazid Al-Busthami (wafat pada tahun 261 H/875 M) menjelaskan bahwa inti dari ajaran tasawuf yaitu : Takhalli (تخلى) ialah membersihkan diri dari segala kotoran atau penyakit hati, seperti : nifaq, hasad, sombong, riya’, sum’ah, tama’, cinta dunia dan penyakit hati yang lain.
Tahalli (تحلى) ialah menghiasi diri dengan amal-amal sholeh baik yang wajib atau yang sunnah seperti sholat, puasa, zakat, haji, duha, shodaqah, tahajjud , sholat rowatib dan lain-lain. Juga menghiasi diri dengan akhlakul karimah, seperti : tawadhu’, zuhud, ‘iffah, qana’ah, amanah, iqtishad dan lain sebagainya. Tajalli (تجلى)ialah merasakan diri selalu berhadap-hadapan dengan sang pencipta, seakan melihat tuhannya, serta merasakan nikmatnya berkomunikasi dengan-Nya.
Munajat ialah selalu mencurahkan isi hati serta berkeluh kesah hanya kepada Allah SWT setiap saat. Terutama pada waktu sunyi tengah malam, selalu merasa bergelimang dengan dosa sehingga tidak henti-hentinya bertobat kepada Allah SWT. Muraqabah ialah merasakan bahwa dirinya selalu berada dalam pengawasan Allah SWT. Dalam segala hal, baik dalam keadaan terjaga atau tidur, merasakan bahwa dirinya sama sekali tidak mempunyai kekuatan apapun saja, yang ada hanya kekuatan dan kesempurnaan Allah SWT.
Muhasabah ialah usaha selalu mengevaluasi dari setiap saat, agar terus semakin baik ke depan. Selalu mengingat dosa-dosa masa lalu untuk dimintakan ampun kepada Allah dan tidak terulang lagi di masa yang akan datang. Syari’at adalah aturan atau undang-undang yang telah dibuat oleh Allah SWT untuk hamba-hambanya, baik berupa aturan-aturan seperti wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram atau berupa amalan-amalan, seperti sholat, zakat, puasa.
Thariqat ialah jalan atau petunjuk dalam suatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh baginda Rasulullah SAW, dan dikerjakan oleh para sahabat, tabi’in dan tabiit tabi’in dan terus bersambung dengan para ulama’ sekarang. Hakikat yaitu keadaan sampai pada tujuan, yaitu ma’rifatullah (mengenal Allah) dan musyaahadatu nuurittajalli ( melihat cahaya yang nyata)
Mengacu terhadap ajaran-ajaran tasawuf di atas, saat ini banyak sekali hal-hal yang harus dibenahi oleh pribadi-pribadi praktisi pendidikan, serta seluruh komponen yang terlibat di dalamnya, baik oleh pengelola, para pendidik, orang tua dan murid (peserta didik)
Oleh : Dr. H. M. Su’aidi, M.Ag
