
Institut Binamadani Indonesia berkolaborasi dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Tangerang menggelar kegiatan Nyaba Warga: Konsolidasi Demokrasi di Kampus Institut Binamadani Indonesia, Kamis (9/7/2026). Kegiatan ini menjadi wadah penguatan literasi kepemiluan sekaligus ruang dialog antara penyelenggara pemilu dan mahasiswa dalam membangun demokrasi yang lebih partisipatif, berintegritas, dan berkeadilan.

Mewakili pimpinan Institut Binamadani Indonesia, Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama dan Kemahasiswaan, Awaludin, M.Pd., menyampaikan bahwa peran Bawaslu sangat strategis dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penyelenggaraan pemilu yang jujur, adil, dan berintegritas. Menurutnya, mahasiswa sebagai agent of change memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi pelopor dalam menjaga kualitas demokrasi. Ia menilai penyuluhan kepemiluan seperti ini perlu terus diperluas karena masih banyak masyarakat yang belum memahami mekanisme pengawasan pemilu, termasuk tata cara pelaporan apabila menemukan dugaan pelanggaran. “Tidak sedikit masyarakat yang sebenarnya mengetahui adanya indikasi pelanggaran di lapangan, namun memilih diam karena khawatir, merasa laporannya tidak akan ditindaklanjuti, atau bahkan belum mengetahui saluran pelaporan yang tersedia. Edukasi yang berkelanjutan menjadi kunci agar masyarakat memiliki keberanian sekaligus pemahaman bahwa menjaga demokrasi adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas penyelenggara pemilu,” ujarnya.
Sementara itu, Plt. Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Binamadani Indonesia, Fikriy, menyampaikan apresiasi kepada Bawaslu Kota Tangerang atas dedikasi dalam mengawal jalannya Pemilihan Umum sehingga dapat berlangsung secara aman dan kondusif. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya hadir sebagai pemilih aktif pada hari pemungutan suara, melainkan juga harus menjadi pemilih yang kritis, rasional, dan berani mengawasi setiap tahapan demokrasi. Ia menegaskan bahwa demokrasi yang sehat tidak hanya diukur dari tingginya angka partisipasi, tetapi juga dari keberanian masyarakat untuk menolak segala bentuk pelanggaran yang dapat mencederai kedaulatan rakyat.

Lebih lanjut, Fikriy turut menyampaikan sejumlah catatan kritis sebagai bentuk kepedulian terhadap kualitas demokrasi di Indonesia. Ia menyoroti masih maraknya praktik politik uang maupun serangan fajar yang hampir selalu menjadi persoalan berulang dalam setiap momentum pemilu. “Serangan fajar tidak pernah bisa dianggap sebagai tradisi politik. Ia adalah bentuk pelecehan terhadap kedaulatan rakyat. Ketika suara masyarakat memiliki harga, maka yang hilang bukan hanya integritas pemilu, tetapi juga harapan akan lahirnya pemimpin yang benar-benar bekerja untuk rakyat”Ujarnya.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Ketua Bawaslu Kota Tangerang, Komarullah, menyampaikan apresiasi kepada Institut Binamadani Indonesia atas ruang dialog yang diberikan kepada mahasiswa untuk menyampaikan pandangan secara terbuka. Ia menjelaskan bahwa pemilu merupakan instrumen utama demokrasi yang bertujuan menghadirkan pemerintahan yang memperoleh legitimasi dari rakyat melalui proses yang bebas, jujur, adil, langsung, umum, rahasia, serta berintegritas. Menurutnya, generasi muda memiliki kontribusi yang sangat besar dalam menentukan arah demokrasi Indonesia mengingat proporsi pemilih muda mendominasi daftar pemilih nasional. Oleh karena itu, peningkatan literasi kepemiluan menjadi kebutuhan mendesak agar partisipasi politik generasi muda tidak hanya tinggi secara kuantitas, tetapi juga berkualitas dalam menentukan pilihan.


Komarullah juga mengingatkan bahwa praktik politik uang, serangan fajar, penyebaran hoaks, kampanye hitam, hingga intimidasi terhadap pemilih merupakan ancaman nyata yang dapat mencederai substansi demokrasi. Ia menegaskan bahwa politik uang bukan sekadar pelanggaran administratif atau pidana pemilu, melainkan tindakan yang merusak independensi pemilih dan menciptakan siklus kepemimpinan yang tidak sehat. Karena itu, Bawaslu terus mendorong penguatan pengawasan partisipatif dengan melibatkan masyarakat, mahasiswa, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen bangsa sebagai mitra strategis dalam menjaga kualitas pemilu. Ia juga menegaskan bahwa Bawaslu Kota Tangerang terbuka terhadap berbagai kritik, masukan, maupun laporan dari masyarakat. Menurutnya, forum seperti Nyaba Warga menjadi wadah penting dalam menyerap aspirasi yang nantinya akan dijadikan bahan evaluasi sekaligus dasar penyempurnaan strategi pengawasan pemilu pada masa mendatang.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi dialog interaktif yang menghadirkan jajaran Kepala Sub Bidang Bawaslu Kota Tangerang bersama para mahasiswa Institut Binamadani Indonesia. Berbagai isu kepemiluan mulai dari mekanisme pelaporan pelanggaran, pengawasan partisipatif, penanganan dugaan politik uang, hingga tantangan demokrasi digital menjadi pokok pembahasan dalam forum tersebut. Dialog berlangsung dinamis dengan diikuti oleh perwakilan mahasiswa dari setiap program studi serta pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Binamadani Indonesia. Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir sinergi yang semakin kuat antara perguruan tinggi dan penyelenggara pemilu dalam membangun generasi muda yang kritis, berintegritas, serta aktif mengawal demokrasi Indonesia.
