Etika dan Moral garda paling depan dalam Menyiapkan lulusan Pendidikan Tinggi

Pendidikan tinggi islam harus memiliki strategis dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, namun harus dibarengi juga kokohnya nilai etika dan spiritual. Bahwa pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya mereduksi tenaga kerja. Pendidikan adalah proses pembentukan manusia seutuhnya, bukan hanya penguasaan keterampilan teknis. John Dewey yang menyatakan bahwa pendidikan bukan persiapan untuk hidup, melainkan kehidupan itu sendiri. Dalam perspektif Islam, lanjutnya, pendidikan bertujuan melahirkan al-insan al-kamil, manusia berilmu yang berakhlak dan bertanggung jawab sosial.

Kemajuan global membawa paradoks serius. Mengutip sosiolog Ulrich Beck, Prof. Tholabi guru besar UIN Syarif hidayatullah.mengatakan masyarakat modern sebagai risk society, di mana kemajuan justru memproduksi berbagai risiko baru, termasuk krisis etika. Risiko hari ini bukan hanya soal ekonomi dan lingkungan, tetapi juga krisis moral.

Filsuf Charles Taylor tentang krisis makna dalam modernitas. Banyak orang sukses secara material, namun mengalami kehampaan batin dan kehilangan orientasi nilai. Dalam kondisi tersebut, pendidikan tinggi Islam dituntut menjadi penopang moral sekaligus penjaga makna hidup. Krisis etika sangat terasa di dunia profesional. Praktik manipulasi, korupsi, dan penyalahgunaan wewenang sering kali dibenarkan atas nama efisiensi dan persaingan. Lulusan perguruan tinggi, termasuk lulusan PTKI, akan berhadapan dengan pilihan-pilihan moral yang menentukan integritas dirinya.

Dalam Islam, kerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari ibadah dan amanah. Profesionalisme harus berkelindan dengan niat yang lurus, kejujuran, dan tanggung jawab. Ia mengingatkan bahwa kecakapan tanpa etika berpotensi melahirkan kerusakan, sementara etika tanpa kompetensi akan kehilangan daya guna. Tantangan tersebut semakin kompleks di era disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan. Efisiensi dan kecepatan kerap berbenturan dengan nilai keadilan dan empati. sarjana Muslim harus technology-ready sekaligus ethically grounded, dengan menjadikan prinsip-prinsip Islam sebagai kompas dalam pengambilan keputusan profesional.

Pendidikan tinggi islam tidak boleh terjebak pada orientasi pasar semata. Akreditasi, peringkat, dan daya saing penting, tetapi misi etik tidak boleh ditinggalkan. Sarjana Muslim,harus dipersiapkan sebagai agen moral yang mampu berkiprah di tingkat global tanpa kehilangan identitas dan integritas. Pemberdayaan lulusan Muslim beretika dan profesional merupakan kebutuhan strategis bangsa. Indonesia tidak terhitung kalau mencari orang pintar, tetapi seringkali kekurangan orang pintar yang jujur dan berani menjaga nilai.
Muga bermanfaat.

 

Oleh : Dr. H.M.Suaidi, M.Ag.