
Hakikat shalat adalah menghadap dan menyatukan hati serta jiwa kepada Allah SWT dengan penuh rasa cinta, takut, dan pengagungan. Shalat bukan sekadar aktivitas lahiriah berupa berdiri, rukuk, sujud, dan membaca bacaan tertentu, tetapi merupakan ibadah yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-nya. Dalam Surat Taha ayat 14, Allah SWT menegaskan hakikat utama shalat: اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ — “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan tegakkanlah salat untuk mengingat-Ku.” Ayat ini menunjukkan bahwa shalat memiliki hubungan yang sangat erat dengan dzikrullah, yaitu menghadirkan dan mengingat Allah SWT dalam kesadaran seorang hamba. Dengan demikian, semakin sempurna shalat seseorang, semestinya semakin kuat pula kesadaran hatinya terhadap kehadiran, kebesaran, dan pengawasan Allah SWT.
Hakikat shalat dalam Surat Taha juga ditekankan sebagai sarana utama untuk mengingat Allah SWT (dzikrullah) serta bentuk ketaatan yang harus dijaga dan diajarkan kepada keluarga. Allah SWT berfirman: وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا — “Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Taha [20]: 132). Ayat ini memperlihatkan bahwa shalat bukan hanya persoalan hubungan individual antara manusia dan Allah, tetapi juga memiliki dimensi pendidikan dan pembinaan keluarga. Seorang Muslim diperintahkan untuk menjaga shalat sekaligus mengajarkannya kepada keluarganya dengan kesabaran. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi SAW yang memerintahkan umatnya untuk mengajarkan dan melaksanakan shalat sebagaimana beliau melaksanakannya.


Salat dalam konteks syariat adalah ibadah wajib berupa serangkaian ucapan dan gerakan khusus yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, sesuai dengan syarat dan rukun yang telah ditetapkan oleh hukum Islam. Dasar pelaksanaan shalat harus mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, sebagaimana sabda beliau kepada para sahabat: صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي — “Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari no. 631). Hadis ini menjadi dasar penting bahwa ibadah shalat tidak boleh semata-mata dibangun berdasarkan perasaan atau pengalaman spiritual pribadi, tetapi harus memiliki landasan syariat yang bersumber dari tuntunan Rasulullah SAW. Karena itu, dimensi lahiriah berupa gerakan, bacaan, waktu, syarat, dan rukun shalat harus dijaga, bersamaan dengan dimensi batin berupa keikhlasan, kekhusyukan, rasa takut (khauf), cinta (mahabbah), dan pengagungan kepada Allah SWT.
Dalam konteks tarekat atau tasawuf, shalat tidak hanya dipandang sebagai gugur kewajiban syariat melalui gerakan dan bacaan lahiriah, melainkan sebagai sarana utama untuk mencapai kedekatan (taqarrub) kepada Allah SWT. Seorang salik atau penempuh jalan spiritual berusaha menghadirkan hati dalam setiap bagian shalat sehingga gerakan lahiriah menjadi cerminan ketundukan batin. Rukuk menggambarkan kerendahan diri, sedangkan sujud menjadi puncak penghambaan seorang manusia kepada Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam hadis sahih: أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ — “Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim no. 482). Dengan demikian, shalat dapat menjadi perjalanan spiritual seorang mukmin menuju kedekatan dengan Allah, bukan dalam pengertian menyatu secara hakiki dengan Allah, tetapi mendekat dalam penghambaan, cinta, dzikir, doa, dan ketundukan kepada-Nya.

Dalam tradisi keilmuan Islam, ungkapan الصلاة معراج المؤمن (ash-shalātu mi‘rājul mu’min), yang berarti “shalat adalah mi’rajnya orang beriman”, sering digunakan untuk menggambarkan kedalaman pengalaman spiritual seorang mukmin dalam shalat. Mi’raj Nabi Muhammad SAW merupakan peristiwa agung yang di dalamnya terdapat penerimaan perintah shalat, sedangkan bagi seorang mukmin, shalat menjadi salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui dzikir, doa, ketundukan, dan kekhusyukan. Namun, ungkapan “shalat adalah mi’rajnya orang beriman” perlu diposisikan sebagai ungkapan hikmah atau istilah yang populer dalam tradisi tasawuf, bukan sebagai hadis sahih yang secara pasti berasal dari Nabi SAW. Dalil sahih yang secara langsung menguatkan makna kedekatan spiritual dalam shalat adalah hadis tentang kedekatan seorang hamba dengan Allah ketika sujud serta QS. Taha ayat 14 tentang mendirikan shalat untuk mengingat Allah. Dengan demikian, hakikat shalat mencakup kesempurnaan syariat sekaligus penghayatan batin: tubuh menghadap kiblat, lisan membaca ayat dan dzikir, sementara hati menghadap dan tunduk kepada Allah SWT dengan cinta, takut, harap, dan pengagungan. والله أعلم بالصواب.
Oleh : Dr.H.M.Suaidi,M.Ag.
