Rektor Institut Binamadani Indonesia Ajak Guru PAI Perkuat Kompetensi dan Keteladanan

Rektor Institut Binamadani Indonesia, Dr. H. M. Su’aidi, M.Ag., diundang sebagai pembicara dalam kegiatan Pembekalan Anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (MGMP PAI) Jakarta Timur II yang digelar di Aula SMP Negeri 160 Jakarta Timur. Kegiatan tersebut menjadi ruang penguatan kompetensi sekaligus refleksi bagi para guru Pendidikan Agama Islam dalam menghadapi dinamika pendidikan yang terus berkembang. Dalam kesempatan tersebut, Dr. H. M. Su’aidi, M.Ag. hadir untuk berbagi wawasan dan pengalaman, khususnya mengenai implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam proses pembelajaran. (7/9/2026)

Kehadiran Rektor Institut Binamadani Indonesia disambut langsung oleh Pengawas Kementerian Agama Jakarta Timur, Ketua MGMP PAI Jakarta Timur II, serta Kepala SMP Negeri 160 Jakarta. Ketua MGMP PAI Jakarta Timur II dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran Dr. H. M. Su’aidi, M.Ag. Menurutnya, kehadiran sosok yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia pendidikan dan sebelumnya pernah menjalankan tugas sebagai Pengawas di lingkungan Jakarta Timur II tersebut menjadi kesempatan berharga bagi para guru untuk kembali menguatkan sekaligus menggali potensi keilmuan. “Beliau bukan sosok yang asing bagi kami. Sebelum aktif sebagai Rektor, beliau telah lama berkecimpung dan memberikan kontribusi dalam pembinaan pendidikan, termasuk sebagai Pengawas. Karena itu, kehadiran beliau hari ini bukan hanya menghadirkan materi, tetapi juga pengalaman, keteladanan, dan energi positif bagi para guru,” ujarnya. Ia berharap para peserta dapat memanfaatkan forum tersebut untuk terus belajar, beradaptasi, serta meningkatkan kualitas diri sebagai pendidik.

Dalam pemaparannya, Dr. H. M. Su’aidi, M.Ag. mengangkat tema “Penerapan Kurikulum Berbasis Cinta”. Ia menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta merupakan pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan nilai kasih sayang, empati, dan pengembangan karakter ke dalam setiap aktivitas pembelajaran. KBC berlandaskan Panca Cinta, yakni cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta lingkungan, cinta diri dan sesama, serta cinta tanah air. Kelima fondasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi diwujudkan dalam proses pembelajaran melalui refleksi spiritual, penguatan rasa ingin tahu, kepedulian terhadap lingkungan, pengembangan kecerdasan emosional, anti-perundungan, empati sosial, serta nasionalisme yang moderat dan penghargaan terhadap keberagaman. Dalam konteks pembelajaran, guru juga didorong bertransformasi dari sekadar pengajar (teacher) menjadi pembimbing ruhani dan karakter (murabbi) yang mengedepankan keteladanan.

Dr. H. M. Su’aidi, M.Ag. juga menekankan pentingnya metode pembelajaran yang interaktif dan dekat dengan pengalaman peserta didik. Pendekatan experiential learning, cooperative learning, diskusi kelompok, hingga role play dapat menjadi bagian dari strategi penerapan KBC di kelas. Menurutnya, implementasi Kurikulum Berbasis Cinta tidak hanya berlangsung dalam kegiatan intrakurikuler, tetapi juga dapat diintegrasikan melalui kegiatan kokurikuler, ekstrakurikuler, serta pembiasaan budaya ramah di lingkungan sekolah. Ia turut mengingatkan posisi strategis guru Pendidikan Agama Islam di tengah masyarakat. “Guru agama itu kerap menjadi sorotan dan ditokohkan. Kalau kasus, mohon maaf, tindak asusila oleh guru lain, barangkali tidak terlalu heboh. Tapi jika sudah menyorot Guru Agama, jangan harap itu bisa padam, karena Guru Agama bukan hanya seorang guru, namun dapat juga menjadi tokoh sentral di masyarakat,” tegasnya. Karena itu, ia mendorong para guru PAI untuk senantiasa menjaga integritas, meningkatkan kompetensi, serta menjadi teladan dalam sikap dan perilaku.

Sementara itu, Wakil Rektor III Institut Binamadani Indonesia, H. Awaludin, M.Pd., yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa Institut Binamadani Indonesia berkomitmen mendukung berbagai upaya peningkatan kualitas dan kapasitas para guru. Menurutnya, peningkatan kompetensi pendidik harus berjalan beriringan dengan peningkatan jenjang akademik. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui berbagai program beasiswa subsidi yang dapat dimanfaatkan, khususnya bagi guru yang memiliki keinginan untuk mengembangkan kompetensi dan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. “Jangan pernah merasa cukup untuk belajar. Guru adalah pembelajar sepanjang hayat. Ketika seorang guru meningkatkan kapasitas dan pendidikannya, yang mendapatkan manfaat bukan hanya dirinya, tetapi juga peserta didik, sekolah, dan masyarakat,” tuturnya. Ia mengajak para guru untuk tidak ragu mengambil kesempatan melanjutkan pendidikan sebagai bagian dari investasi untuk masa depan pendidikan yang lebih berkualitas.

Melalui kegiatan tersebut, Institut Binamadani Indonesia berharap para guru Pendidikan Agama Islam dapat terus berkhidmat dalam dunia pendidikan dengan menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membangun karakter, menumbuhkan empati, dan menanamkan nilai-nilai cinta kepada peserta didik. Penguatan kompetensi, integritas, serta keteladanan guru menjadi bagian penting dalam melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, religius, dan mampu hidup berdampingan di tengah keberagaman. Institut Binamadani Indonesia juga berharap sinergi dengan para guru dan MGMP PAI dapat terus berkembang sebagai bagian dari ikhtiar bersama meningkatkan mutu pendidikan serta membangun ekosistem pendidikan yang lebih humanis dan bermakna.